Mengenal KB Spiral, Jenisnya, dan Efeknya Bagi Wanita Bersama SehatQ

  • Whatsapp
Mengenal-KB-Spiral-Jenisnya-dan-Efeknya-Bagi-Wanita-Bersama-SehatQ
Foto dari Canva Pro

Info SehatQ kali ini akan membahas mengenai Intrauterine Device (IUD) atau yang umum dikenal di masyarakat sebagai spiral. Bagi kaum wanita, terutama yang sudah menikah dan memiliki anak, tentu tidak asing lagi dengan istilah ini. Karena pengetahuan tentang alat kontrasepsi memang penting untuk diketahui.

Di Indonesia sendiri penggunaan alat kontrasepsi seperti pil KB hingga spiral memang diperbolehkan sebagai pendukung dari program keluarga berencana pemerintah. Salah satu jenis alat kontrasepsi yang dikatakan memiliki hasil efektif adalah spiral.

Apa itu KB Spiral?

Spiral atau IUD adalah alat kontrasepsi atau KB yang dipasang dalam rahim. IUD berukuran kecil 28 x 30 mm hingga 32 x 36 mm dan berbentuk “T”.

Spiral dipasang dengan cara memasukkannya melalui vagina dan bisa dipakai hingga 3 sampai 10 tahun. Karena tahan lama dan memiliki efektivitas tinggi alat ini banyak digunakan oleh kaum wanita yang sudah menikah. Namun, IUD tidak bisa digunakan pada wanita perokok, memiliki penyakit kanker serviks atau kanker payudara, liver, radang panggul, maupun penyakit seksual menular.

Jenis KB Spiral

SehatQ kali ini juga akan menginfokan mengenai 2 jenis KB spiral yang sering digunakan sebagai alat pencegah kehamilan, yaitu:

1. KB Spiral Mengandung Hormon (IUD Hormonal)

IUD Hormonal merupakan alat kontrasepsi yang dilapisi hormon progesteron yang akan dilepaskan ketika sudah terpasang di rahim. Hormon ini akan menyebabkan pengentalan lendir di daerah serviks yang mampu menghalangi perjalanan sperma ke sel telur sehingga mencegah pembuahan.

IUD hormonal ini dapat mengurangi kram, rasa nyeri, juga perdarahan selama masa haid, serta menurunkan risiko kehamilan. Namun, efektivitasnya hanya bertahan 3 hingga 5 tahun saja.

2. KB Spiral Berlapis Tembaga (IUD Non-Hormonal)

IUD non-hormonal merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari tembaga tanpa adanya bagian luar yang dilapisi hormon. Tembaga inilah yang nantinya akan melepaskan ion-ion sehingga membuat pergerakan sperma melemah. Pergerakan yang lemah dan lamban dapat mencegah terjadinya kehamilan.

IUD jenis ini bisa bertahan 3 hingga 10 tahun dan sangat disarankan digunakan oleh ibu menyusui karena mampu menjaga kualitas air susu ibu.

Risiko Pemasangan Spiral

Selain memberikan keuntungan berupa dapat mencegah kehamilan, ternyata IUD juga memiliki efek samping, yaitu:

  • Kemungkinan adanya pergeseran sebagian atau seluruh IUD dari tempat awal dipasang.
  • Penggunaan IUD Hormonal bisa menyebabkan munculnya jerawat, sakit kepala, dan pegal di beberapa bagian badan juga nyeri di area payudara. Biasanya efek ini dirasakan saat menjelang dan pada masa haid.
  • Rentan mengalami perdarahan saat menstruasi dan kram yang sangat menyakitkan bagi pengguna IUD tembaga.
  • Mengalami perdarahan pada masa awal pemakaian IUD jenis apa Sebenarnya, ini cukup normal. Namun, jika perdarahan tidak kunjung mereda bisa berkonsultasi langsung ke dokter yang melakukan tindakan pemasangan IUD.

Namun apabila dipasang dengan benar, IUD cenderung aman dan memberikan efek negatif yang lebih sedikit. Oleh sebab itu, pemasangan IUD harus dilakukan oleh ahlinya. Pemasangan IUD pada wanita ini memang bukan tindakan yang besar dan berisiko tinggi. Akan tetapi, adanya risiko membuat Anda sebaiknya melakukan konsultasi dahulu sebelum pemasangan.

Apabila ingin tahu lebih banyak mengenai informasi seputar kesehatan dan tindakan medis Anda bisa berkunjung ke website SehatQ. Berbagai informasi kesehatan terbaru tersedia di situs satu ini, mulai dari penyakit ringan seperti batuk hingga kanker. Terdapat juga informasi seputar kesehatan anak dan penggunaan obat-obatan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *